Jelang malam menghilang..
Dalam laku dan juga waktu,
kita selalu bertentang.
Kau bukanlah aji yang aku sembah.
Padamu aku telah hilang,
padaku kau adalah pedang.
Tapi sebelum tikammu menembus dada,
sungguh jantung ini sudah hancur berkeping.
Sepanjang laju laku dan juga waktu yang kita pacu,
aku dan kau adalah malam yang hilang dalam perjumpaan
Tampilkan postingan dengan label elegi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label elegi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 31 Maret 2012
Selasa, 27 Maret 2012
Separoh Kopi yang Habis Belakangan
Aku ingat persis sore itu. Entah sudah berapa batang rokok temani
menungguimu dalam diamku. Masih saja kuhisap tanpa peduli sekitar. Walau
waktu merajuk tuk direngkuh.
1 jam, 2 jam……… hampir 3 jam!
Sepertinya kau tak akan datang. Harusnya sudah kuduga hal itu.
Harusnya wanita sepertimu mudah ditebak; entah kenapa sore itu aku
memutuskan untuk tidak tergoda membaca gelagatmu. Aku jadi suka
menunggu.
Oke, satu batang lagi; akan kusudahi semua ini.
Tapi aku tak ingat persis cuaca sore itu. Ah, sejak kapan laki-laki
peduli cuaca. Eh, bukan, sebenarnya aku tak peduli cuaca sejak
mengenalmu: sore itu. Kau yang mengajariku tak pedulikan cuaca. Dan sore
itu, mengajariku mengenalimu. Ya, aku benar-benar baru mengenalimu
dengan benar.
Kulihat kopi itu masih separoh menggenangi cangkir. Sudah tak beruap.
Apa urusanku dengan separoh kopi yang telah dingin, pikirku. Heh!
kopi pun tak kugubris.
……………………………
Tapi kutenggak tandas juga kopi yang separoh itu. Ketiadaan memang
harus diciptakan. Harus kutuntaskan urusanku dengan separoh
kopi-pahit-yang-dingin itu.
Lihatlah betapa aku jadi tergagap. Bukan karena kopi, bukan karena
kamu. Entahlah, sebetulnya aku tak betul-betul mengerti. Entahlah. Tapi
kupastikan bukan karena kamu.
Kumatikan rokok terakhir. Saat itu juga kuangkat kakiku menembus
hujan. Kutinggalkan sore itu: sore yang biasa tapi meniadakan. Semoga
kau tak datang karena hujan. Semoga hujan dapat mamadamkan aku.
Aku sedang membara, tapi, harusnya ku tahu tak semua wanita tahan api.
Senin, 26 Maret 2012
Ada yang Tak Terjangkau Antara Aku dan Engkau
Sapardi bicara cinta,
yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api,
yang membuatnya menjadi abu..
yang tak tersampaikan
awan kepada hujan,
yang membuatnya tiada..
Tapi aku ingin mencintaimu dengan lebih sederhana
tanpa mulut berucap kata
tanpa isyarat selirih angin
Lantas itulah yang membuatmu jadi tiada..
yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api,
yang membuatnya menjadi abu..
yang tak tersampaikan
awan kepada hujan,
yang membuatnya tiada..
Tapi aku ingin mencintaimu dengan lebih sederhana
tanpa mulut berucap kata
tanpa isyarat selirih angin
Lantas itulah yang membuatmu jadi tiada..
Langganan:
Postingan (Atom)
